
Pejabat Publik & Konten Media: Visi atau Validitas?
Aku Posting, Maka Aku Ada “kerja, posting, kerja, posting”…fenomena ini kini telah menjadi bagian yang sulit dijauhkan dalam kehidupan sehari-hari terutama di ruang digital. Deskripsi ini telah membuat manusia seolah sebagai manusia narsistik. “Aku posting, maka aku ada”. Yah, ruang digital telah menggeser orientasi atau nilai dari suatu pekerjaan. Nyatanya manusia pekerja sekarang lebih cenderung

Ulasan Kritis atas UU ITE dalam Seminar Fest.co 2025 HMJ KPI
Himpunan mahasiswa jurusan komunikasi dan penyiaran islam (HMJ KPI) UIN Alauddin Makassar, menggelar seminar bertajuk “ UU ITE : solusi atau pembungkaman” sebagai rangkain opening fest.co 2025 di Auditorium UIN Alauddin Makassar, kamis 23 oktober 2025,dengan menghadirkan narasumber dari beragam latarbelakang yang bersama-sama membedah polemik implementasi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) di tengah

Bajing(a.n): Suatu Adagium Tentang Pengendali Kehendak Hukum
Oleh: Rahmat Hidayat, S.H., M.H. Ketika kanak-kanak, saat hasil panen buah kelapa di desa kami berkurang, paman memberi tahuku bahwa yang menghancurkannya adalah bajing kelapa. Menginjak remaja dalam perjalanan menuju kota makassar kudapati mobil barang yang terbuka pintunya, ayah memberi tahuku bahwa yang menghancurkannya adalah bajing lompat. Pun ketika salah satu gebetanku marah dan menjauh,

Membaca Ulang “Manusia Relasional” Dalam Moderasi Beragama
Hakikatnya manusia itu makhluk bebas. Namun, kebebasan tidak semena-mena.Dia dibatasi oleh kebebasan manusia lain. Jean Paul Sartre sebut ini faktisitas.Faktisitas itu sama dengan segala hal yang ada pada diri manusia yang tidakdipaksakan kepada orang lain. Sayangnya, banyak pelaku agama (mayoritas) tidak jarang memaksakan hasratmereka kepada kelompok lain. Akibatnya kekerasan terhadap kelompok ataukepercayaan tertentu tidak pernah

Mengapa Negara Takut Terhadap Simbol-Simbol Seni?
Awal Agustus yang lalu, negara kembali merasa terancam dengan maraknya pengibaran bendera One Piece Jolly Roger. Fenomena ini mendapat respons dari pemerintah yang menganggapnya sebagai ancaman terhadap nasionalisme bahkan bisa memecah belah bangsa sebagaimana yang dikatakan oleh Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad. “Kami mendeteksi dan mendapat masukan dari lembaga-lembaga pengamanan memang ada upaya memecah

Kolaka Utara: Sebuah Epitaf Pembangunan?
Ketika Kapital Melindas Kedaulatan Agraris dan Martabat Rakyat Di persimpangan janji “kemajuan” dan realitas penderitaan, Kolaka Utara menjadi cermin buram dari sebuah proyek pembangunan yang pincang. Narasi besar tentang pertumbuhan ekonomi seringkali mengaburkan jeritan-jeritan kecil di pedalaman, di mana tanah yang subur dan udara yang bersih kini berganti rupa menjadi lanskap yang tercabik oleh kerakusan

Ketika Papua Dirangkum dalam Gambar Laut Jernih dan Burung Cenderawasih
Beberapa waktu terakhir, tagar #SaveRajaAmpat ramai di media sosial. Isunya mengemuka setelah Greenpeace Indonesia mengunggah laporan terkait aktivitas penambangan nikel di kawasan Raja Ampat, Papua Barat. Dengan cepat, narasi penyelamatan “surga terakhir di Bumi” mendapat dukungan luas dari publik. Kampanye ini tampak seperti bentuk solidaritas ekologis terhadap Papua. Namun, seiring mengalirnya pujian, saya merasa ada

Apakah Pria dan Wanita Berbicara Bahasa yang Sama?
Komunikasi adalah bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Kita menggunakan bahasa untuk berbagi informasi, perasaan, dan pikiran dengan orang lain. Namun, sering kali kita mengalami kesalahpahaman ketika berkomunikasi, terutama antara pria dan wanita. Meskipun menggunakan bahasa yang sama, cara pria dan wanita berkomunikasi ternyata memiliki perbedaan yang cukup besar. Deborah Tannen, seorang ahli bahasa dari Amerika,

Di Persimpangan Jalan: Dialog Baru Islam dan Barat di Dunia yang Berubah
Benturan Islam-Barat bukan takdir peradaban, melainkan drama politik yang diplot dalam labirin minyak, prasangka, dan keserakahan kuasa — Rusdin-Hidayat membedah ilusi ini dengan telak, menawarkan epistemologi dialog sebagai jembatan melampaui jejak darah sejarah. Di sebuah sudut Washington D.C., sekelompok anak muda Yahudi menggelar aksi duduk, menuntut gencatan senjata di Gaza. Di perairan Mediterania, seorang aktivis

Puisi sebagai Alat Perlawanan Politik
Kekuatan Tersembunyi dalam Kata-Kata Sederhana Ketika kebebasan berbicara dibungkam dan suara-suara kritik ditindas, puisi—meski sederhana dalam bentuk—mampu menjadi pembawa pesan perlawanan yang paling gigih. Fenomena ini terlihat jelas selama periode Darurat di India (1975-1977), ketika pemerintahan Indira Gandhi menerapkan kontrol ketat terhadap kebebasan sipil. Di tengah represi politik yang mencekam, tumbuh subur puisi-puisi perlawanan yang,
Recent Posts
- Pejabat Publik & Konten Media: Visi atau Validitas?

- Ulasan Kritis atas UU ITE dalam Seminar Fest.co 2025 HMJ KPI

- Bajing(a.n): Suatu Adagium Tentang Pengendali Kehendak Hukum

- Membaca Ulang “Manusia Relasional” Dalam Moderasi Beragama

- Mengapa Negara Takut Terhadap Simbol-Simbol Seni?

Tags
Antonio Gramsci asia selatan bahasa Bendera One Piece benturan peradaban danudirja dialog dunia barat dunia timur editorial ekologi globalisasi Hegemoni HMJ KPI interpretif kesetaraan kesetaraan dalam bahasa kolaka utara Konstruksi konstruktivis kritik kritis kritsi lingkungan Makassar Manusia Rasional Moderasi penelitian Pengantar Jenazah posmodern postmodern puisi rajaampat Simbol Seni tambang Ugal-Ugalan UU ITE wanita














