Tulisan ini berupaya menjawab pertanyaan “apakah seseorang yang tidak menerima gaji, tetapi membantu banyak orang, dapat dikategorikan sebagai pengangguran?”
Kenyamanan Emosional, Kesukarelaan, dan Moral Ekonomi dalam Dunia Tanpa Gaji
Pekerjaan telah menjadi lebih dari sekadar sarana mencari nafkah. Pekerjaan kini menjadi penanda nilai diri dan identitas seseorang dalam masyarakat. Ketika seseorang mengalami pengangguran, ia tidak hanya kehilangan sumber pendapatan, tetapi juga status sosial, arah hidup, dan jati diri.
Namun, sebuah temuan menarik dari penelitian yang dipublikasikan dalam British Journal of Sociology (2025) mengungkapkan fenomena yang mengejutkan, yaitu orang yang menganggur namun aktif menjadi relawan justru membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali bekerja dibandingkan dengan mereka yang tidak terlibat dalam kegiatan sukarela.[1]
Temuan ini menantang asumsi umum dalam kebijakan ketenagakerjaan yang selama ini mendorong kegiatan relawan sebagai jembatan menuju pekerjaan formal. Lebih dari itu, penelitian ini mengungkap kebenaran yang lebih mendalam tentang sifat manusia, ketika dunia kerja formal gagal memberikan makna dan penerimaan, manusia akan mencari hal tersebut di tempat lain, salah satunya adalah dalam komunitas relawan.
Lingkungan Relawan dan Kenyamanan Emosional
Lingkungan relawan menawarkan sesuatu yang tidak selalu dapat diberikan oleh pekerjaan formal, yaitu kenyamanan emosional. Dalam komunitas sukarela, tidak terdapat hierarki jabatan yang kaku, tekanan produktivitas yang menguras energi, atau penilaian berdasarkan riwayat pekerjaan. Yang ada adalah perasaan dibutuhkan, dihargai, dan memiliki tempat yang bermakna.
Bagi individu yang mengalami fase pengangguran, komunitas relawan dapat menjadi ruang aman secara psikologis yang sangat berharga. Penelitian Holstein mengidentifikasi tiga elemen utama yang ditemukan para relawan dalam komunitas tersebut, yaitu penerimaan tanpa syarat, rasa memiliki, dan tujuan sosial yang jelas. Ketika kebutuhan-kebutuhan dasar ini terpenuhi, dorongan untuk kembali bekerja secara formal menjadi berkurang. Realitas ini memperluas pemahaman kita tentang motivasi manusia, bahwa yang dicari tidak hanya upah materi, tetapi juga makna hidup.
Konsep Moral Economy: Bekerja Tidak Selalu Berarti Dibayar
Fenomena ini menjadi lebih kaya ketika kita menganalisisnya melalui perspektif moral economy yang dikemukakan oleh E.P. Thompson (1971). Thompson menjelaskan bahwa dalam masyarakat pra-industri, tindakan ekonomi selalu dipertimbangkan melalui nilai-nilai moral, apa yang dianggap adil, layak, dan manusiawi.[2]
Dalam konteks ini, menjadi relawan dapat dipahami sebagai tindakan ekonomi yang tidak terbayar secara materi, namun bernilai tinggi secara moral dan sosial. Seperti halnya pada dua orang yang menyiram pohon yang sama. Satu orang mendapat bayaran, yang lain tidak. Dalam sistem ekonomi modern, hanya satu yang dikategorikan sebagai “bekerja.” Namun, dari perspektif masyarakat khususnya mereka yang merasakan manfaat dari pohon tersebut keduanya memberikan kontribusi yang sama berharganya.
Dalam hal inilah konsep moral economy berperan, yaitu mengakui kerja tanpa upah sebagai bentuk kontribusi nyata, meskipun tidak tercatat dalam sistem ekonomi formal. Dalam komunitas relawan, seseorang mungkin tidak menerima bayaran, tetapi tetap dianggap penting dan berharga. Mereka bekerja berdasarkan nilai moral, bukan mekanisme pasar. Penelitian Holstein secara tidak langsung menunjukkan bahwa relawan telah membentuk ruang ekonomi alternatif, yaitu ketika seseorang tetap produktif meskipun tidak dibayar dan tetap merasa berhasil meskipun belum kembali ke dunia kerja formal.
Menjadi relawan apakah sama dengan menganggur?
Jawabannya jelas “TIDAK” tetapi, aspek paling menarik dari fenomena ini adalah bahwa kegiatan relawan berfungsi seperti “bayangan sistem kerja” yang melengkapi kekosongan yang ditinggalkan oleh dunia kerja formal. Ketika pekerjaan menjadi terlalu menekan, tidak manusiawi, atau bahkan tidak tersedia, kesukarelaan memberikan ruang bagi manusia untuk tetap merasa utuh dan bermakna. Justru fungsi inilah, kegiatan relawan dapat menjadi pengganti yang memuaskan dan berpotensi memperpanjang masa pengangguran, sebagaimana yang dicatat dalam penelitian Holstain. Namun, pertanyaan yang perlu diajukan adalah apakah ini merupakan masalah? atau ini merupakan sinyal bahwa sistem ekonomi formal perlu dievaluasi ulang?
Jika seseoarang merasa lebih hidup, lebih dihargai, dan lebih bermakna dalam lingkungan relawan, sementara kembali bekerja terasa hambar, maka yang perlu diubah bukanlah relawan, melainkan cara memandang dan menilai pekerjaan.
Bagi para pembuat kebijakan, temuan ini memberikan peringatan penting karena mendorong kegiatan relawan sebagai strategi untuk membuat penganggur seolah bekerja dapat menimbulkan problem baru. Menyederhanakan kegiatan relawan hanya sebagai strategi ketenagakerjaan justru dapat mengabaikan aspek paling manusiawi dari fenomena ini, bahwa manusia dapat tetap berfungsi dan bermakna tanpa bekerja dalam defenisi ekonomi klasik.
Mendefinisikan Ulang “Produktivitas” di Era Baru
Dalam hal ini, kita diajak untuk merenungi kembali satu pertanyaan fundamental, yaitu “apakah seseorang yang tidak menerima gaji, tetapi membantu banyak orang, dapat dikategorikan sebagai pengangguran?”
penelitian Holstein dan konsep moral economy memberikan jawaban yang tegas yaitu tidak. Manusia bukan hanya pekerja yang mengharapkan upah. mereka juga pencari makna, pemberi waktu, dan pemilik nilai-nilai moral. Di tengah sistem ekonomi yang seringkali terasa dingin dan hanya menghitung untung-rugi, komunitas relawan hadir sebagai pengingat bahwa kerja sejati adalah kerja yang memberikan dampak, bukan semata-mata kerja yang dibayar.
Melalui perspektif ini, kita dapat memahami bahwa produktivitas tidak selalu harus diukur dengan standar ekonomi formal. Terdapat bentuk kontribusi lain yang sama berharganya bagi masyarakat dan sudah saatnya kita mengakui serta menghargai keberagaman cara manusia berkontribusi terhadap kesejahteraan bersama.
- [1] Holstein, J. (2025). Lagging Behind by Doing Good: How Volunteering Prolongs Unemployment. The British Journal of Sociology, 76(1), 102-123. https://doi.org/10.1111/1468-4446.13182
- [2] Thompson, E.P. (1971). The Moral Economy of the English Crowd in the Eighteenth Century. Past & Present, (50), 76-136. https://doi.org/10.1093/past/50.1.76
