Buletin Setyabudi
Edisi Juli 2026 · 2 artikel
Yayasan Danudirja Setyabudi Nusantara
Metode Jakarta: Ketika Sepak Bola Menjadi Tirai Kediktatoran dalam Novel 1970

Mengapa Piala Dunia 1970 disebut sebagai tirai bagi kediktatoran Brasil? Ketika dunia terpukau oleh aksi Pele dan Brasil berhasil merebut gelar juara dunia ketiganya, aparat militer pada saat yang sama terus memburu orang-orang yang dicurigai sebagai komunis. Sepak bola menjadi tontonan yang menghibur rakyat, sementara di sudut-sudut sel yang tersembunyi, banyak nyawa dihabisi tanpa pernah diadili. Salah satu wajah dari kegelapan itu adalah Raul dos Santos Figueira, tokoh fiktif yang dihidupkan Henrique Schneider dalam novelnya 1970.
Raul dos Santos Figueira digambarkan sebagai pegawai bank berusia 25 tahun yang tinggal bersama ibunya di pusat kota Porto Alegre. Hidupnya sehari-hari sederhana, dari rumah ke kantor, lalu pulang lagi. Ia bukan pemimpin revolusi, bukan tokoh politik, bahkan tidak benar-benar memahami pertarungan ideologi yang tengah berkecamuk di negaranya. Namun hidupnya berubah total ketika aparat negara mencapnya sebagai ancaman bagi stabilitas nasional. Raul diculik oleh aparat saat hendak menonton bioskop, lalu selama sembilan hari mengalami penyiksaan karena dituduh terlibat kelompok bersenjata sayap kiri Vanguarda Popular Revolucionaria (VPR), yang saat itu memang berupaya menculik seorang konsul Amerika Serikat.
Novel ini terdiri dari 133 halaman dan 22 bab yang disusun dengan alur maju-mundur, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Gladhys Elliona dan diterbitkan Marjin Kiri pada Agustus 2023. Selain kisah Raul, kita juga diajak menyelami sudut pandang tokoh-tokoh lain, terutama Irene, ibu Raul, yang penderitaannya menjadi cermin dari duka yang jauh lebih luas, duka setiap keluarga yang kehilangan anak tanpa pernah tahu alasan yang jelas.
Dalam sebuah wawancara dengan majalah Candido, terbitan Perpustakaan Publik Parana, Schneider menjelaskan proses kreatifnya. Novel ini mulai ia tulis pada 6 Desember 2014, dan naskah pertamanya rampung pada September 2015, sebelum akhirnya melalui dua kali revisi hingga selesai pada April 2016. Schneider menegaskan bahwa tokoh Raul tidak terinspirasi dari satu kisah hidup tertentu. Raul, katanya, sengaja dibuat sebagai sosok yang sangat biasa dan anonim, seseorang yang secara tidak sengaja terseret ke dalam kekelaman sebuah zaman yang tidak boleh terulang.
Meski Raul adalah tokoh fiksi, Schneider menegaskan bahwa hampir semua peristiwa dalam novelnya benar-benar terjadi, percobaan penculikan konsul Amerika Serikat di Porto Alegre, meningkatnya represi setelah peristiwa itu, penangkapan salah sasaran, penyiksaan terhadap orang-orang yang sama sekali tidak terlibat politik, tempat-tempat penyiksaan rahasia, bahkan pelatihan menyiksa yang memakai manusia hidup sebagai bahan latihan. Dengan kata lain, semua yang ditulis dalam novel itu pernah terjadi, Schneider hanya merangkainya menjadi satu kisah yang utuh.
Kisah Raul dos Santos Figueira memang fiksi, tetapi ia berakar pada kenyataan yang jauh lebih kelam, salah satunya adalah kasus Raul Amaro Nin Ferreira, seorang insinyur yang menjadi korban nyata kediktatoran militer Brasil.
Berdasarkan laporan investigasi jurnalis Conceiçao Lemes untuk Viomundo yang dipublikasikan ulang oleh Sindikat Insinyur Rio de Janeiro (SengeRJ), Raul Amaro ditangkap secara tidak sengaja dalam razia polisi di kawasan Laranjeiras, Rio de Janeiro, pada dini hari 1 Agustus 1971. Dalam mobilnya ditemukan sketsa jalan yang sebenarnya hanya petunjuk arah menuju rumah kerabatnya, namun oleh Pusat Informasi Angkatan Darat (CIE) sketsa itu ditafsirkan sebagai peta rumah para jenderal yang hendak dijadikan sasaran serangan gerilya.
Selama bertahun-tahun, versi resmi pemerintah menyebut Raul Amaro meninggal karena sebab alami saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Namun gugatan hukum yang diajukan ibunya, Mariana, sejak 1979, kesaksian mantan prajurit yang menyaksikan langsung penyiksaan tersebut, serta laporan awal Komisi Kebenaran Nasional Brasil yang dirilis pada 2012, semuanya mengarah pada kesimpulan yang berbeda, Raul Amaro tewas pada pertengahan Agustus 1971 setelah mengalami serangkaian penyiksaan. Pengadilan federal bahkan telah memenangkan gugatan keluarganya pada 1982, dan putusan final pada 1994 menegaskan bahwa negara telah menyiksa dan membunuhnya.
Yang tidak kalah mengejutkan, surat kabar besar seperti O Globo pada masanya justru menyebarkan versi resmi rezim Brasil, bahkan mengarang nama samaran “Eulalio” untuk Raul Amaro dan menggambarkannya sebagai seorang teroris subversif. Baru puluhan tahun kemudian, setelah keluarga dan peneliti membuka kembali arsip-arsip negara, kebohongan itu terbongkar. Kasus ini menjadi bukti nyata bagaimana kekerasan yang digambarkan dalam novel 1970 bukan sekadar imajinasi, melainkan cermin dari nasib banyak orang biasa yang direnggut kehidupannya oleh mesin represi negara.
Metode Jakarta: Ketika Sebuah Kota Menjadi Kode Sandi Teror
Pemahaman saya membaca novel 1970 berubah, setelah saya membaca Metode Jakarta, karya jurnalis Amerika Serikat, Vincent Bevins. Jika Schneider membawa saya masuk ke ruang interogasi seorang korban, Bevins mengajak saya melihat ruang komando tempat strategi kekerasan itu disusun.
Buku ini terbit pertama kali pada 2020 dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Pradewi Tri Chatami, diterbitkan Marjin Kiri. Melalui riset yang memanfaatkan dokumen-dokumen yang telah dideklasifikasi serta wawancara dengan penyintas dan saksi mata di berbagai negara, Bevins menunjukkan bahwa pembantaian antikomunis 1965–1966 di Indonesia, yang menewaskan sekitar satu juta warga sipil tak bersenjata, bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia menyebutnya sebagai salah satu titik balik terpenting Perang Dingin, musnahnya partai komunis terbesar di dunia di luar Uni Soviet dan Tiongkok, dengan keterlibatan rahasia badan intelijen Amerika Serikat, CIA.
Yang paling mencekam dari temuan Bevins adalah bagaimana nama “Jakarta” kemudian berubah menjadi kode sandi teror di berbagai negara. Metode yang sama, mencap lawan politik sebagai komunis lalu menumpasnya secara sistematis, kemudian direplikasi di berbagai belahan dunia, dengan sebutan berbeda-beda seperti “Operaçao Jakarta” di Brasil atau “Plan Yakarta” di Chile. Menjelang kudeta terhadap Presiden Salvador Allende di Chile pada 1973, coretan bertuliskan “Jakarta is coming” muncul di berbagai sudut Santiago sebagai ancaman bagi para pendukung gerakan kiri. Pesannya jelas, apa yang terjadi di Indonesia bisa juga terjadi di Chile.
Bevins juga menegaskan bahwa kudeta militer Brasil pada 1964 adalah mata rantai penting dalam jaringan strategi antikomunis global tersebut. Baginya, Brasil dan Indonesia merupakan dua “kemenangan” strategis yang sangat menentukan bagi blok yang dipimpin Amerika Serikat dalam membentuk tatanan politik dan ekonomi dunia setelah Perang Dingin, sebuah tatanan yang menurut Bevins masih membentuk ketimpangan global hingga hari ini.
Di sinilah novel 1970 dan buku Metode Jakarta saling melengkapi. Metode Jakarta menjelaskan bagaimana sebuah sistem kekerasan bekerja secara global. Novel 1970 menunjukkan bagaimana rasanya hidup di bawah sistem itu, dari sudut pandang manusia biasa yang tiba-tiba kehilangan segalanya.
Bevins berbicara tentang dokumen rahasia, operasi intelijen, jaringan militer, dan kebijakan luar negeri. Schneider berbicara tentang kehilangan, ketakutan seorang ibu, dan seorang pemuda yang mendadak kehilangan masa depannya. Satu buku menjelaskan mesin sejarah, yang lain memperlihatkan manusia yang terlindas oleh mesin itu.
Membaca kedua buku ini, membuat saya memahami bahwa kekerasan negara tidak pernah berhenti di batas-batas sebuah negara. Ia melintasi samudra, berpindah dari satu rezim ke rezim lain, mewariskan pola yang sama, mengkambinghitamkan, menculik, menyiksa, lalu menutupinya dengan narasi resmi yang keliru, sebagaimana yang terjadi pada Raul Amaro maupun pada tokoh fiktif Raul dos Santos Figueira.
Jakarta, Sebuah Nama yang Menjadi Kata Sandi Ketakutan
Bagi saya, pengalaman membaca kedua buku ini terasa jauh lebih personal. Nama Jakarta dalam judul buku Bevins bukan sekadar penunjuk lokasi geografis. Ia adalah jejak dari sebuah peristiwa yang pernah terjadi di negeri ini, sebelum kemudian berubah menjadi kata sandi ketakutan di berbagai belahan dunia.
Ironisnya, ketika nama Jakarta dikenang di luar negeri sebagai simbol pembantaian antikomunis, di Indonesia sendiri sejarah 1965 masih sering menjadi ruang yang sunyi dan penuh perdebatan. Generasi baru tumbuh tanpa sepenuhnya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada masa itu.
Novel 1970 menjadi pengingat bahwa di balik setiap angka korban, setiap dokumen rahasia, dan setiap istilah seperti Metode Jakarta, selalu ada manusia seperti Raul, baik yang fiktif maupun yang nyata. Selalu ada keluarga yang kehilangan anak, kekasih yang kehilangan pasangan, dan generasi yang tumbuh tanpa sepenuhnya mengetahui apa yang pernah terjadi kepada orang-orang terdekat mereka.
Mungkin itulah sebabnya kedua buku terbitan Marjin Kiri ini penting dibaca oleh generasi sekarang. Metode Jakarta menjelaskan mengapa kekerasan itu terjadi. Novel 1970 membantu kita memahami bagaimana rasanya menjadi orang yang mengalami kekerasan itu.
Pada akhirnya, sejarah tidak hanya diingat melalui arsip negara atau jumlah korban. Ia juga hidup melalui sastra yang berani mengembalikan nama, wajah, dan kemanusiaan kepada mereka yang pernah berusaha dihapus dari ingatan kolektif.
Daftar Pustaka:
Bevins, V. (2022). Metode Jakarta: Amerika Serikat, pembantaian 1965, dan dunia global kita sekarang (P. T. Chatami, Trans.). Marjin Kiri.
Schneider, H. (2023). 1970 (G. Elliona, Trans.). Marjin Kiri.
Sindicato dos Engenheiros no Estado do Rio de Janeiro. (n.d.). Assassinato do engenheiro Raul Amaro na ditadura. https://sengerj.org.br/assassinato-do-engenheiro-raul-amaro-na-ditadura/
Wasit Terakhir

Kenapa final Piala Dunia Minggu ini dibaca sebagai urusan Gaza, dan kenapa pembacaan itu menyesatkan
Untuk Anda yang tidak menonton bola
Anda tidak perlu suka sepak bola untuk membaca tulisan ini. Yang perlu Anda tahu cuma empat hal.
Pertama, Minggu malam ini di New York, Argentina melawan Spanyol di final Piala Dunia. Ini pertandingan paling banyak ditonton di planet ini, sekitar satu miliar pasang mata dalam sembilan puluh menit.
Kedua, kapten Argentina adalah Lionel Messi, mungkin manusia paling dicintai di dunia olahraga. Bintang muda Spanyol adalah Lamine Yamal, umur sembilan belas tahun, yang bulan Mei lalu mengibarkan bendera Palestina di parade juara klubnya.
Ketiga, Presiden Argentina Javier Milei menyebut dirinya presiden paling Zionis di dunia. Pemerintah Spanyol melakukan kebalikannya: mengakui negara Palestina lebih awal dari kebanyakan negara Eropa, lalu mengambil langkah embargo dan sanksi terhadap Israel.
Keempat, dan ini yang membuat semuanya meledak: beberapa jam sebelum semifinal melawan Inggris, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir menulis di media sosial bahwa ia tidak perlu menjelaskan kenapa ia berdoa sepenuh hati agar Argentina menang. Setelah Argentina benar-benar menang, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich ikut merayakan dan menyapa Milei sebagai “seorang kawan”. Duta Besar Israel di PBB cukup menulis dua kata: Vamos Argentina.
Jadi begitulah. Sebuah pertandingan bola sudah dibaca sebelum dimainkan: pro-Israel lawan anti-genosida. Referendum moral dalam sembilan puluh menit.
Tulisan ini ingin membantah pembacaan itu. Bukan karena pembacaan itu salah secara moral. Justru karena ia terlalu memuaskan, dan hal-hal yang terlalu memuaskan biasanya sedang menyembunyikan sesuatu.
Bukan bola yang dipolitisasi
Kalimat yang paling sering diulang minggu ini adalah “sepak bola tidak bisa dipisahkan dari politik”. Kalimat itu benar, dan sudah tumpul. Ia klise yang tidak lagi menjelaskan apa pun.
Yang sebenarnya terjadi justru kebalikannya. Bukan sepak bola yang dipolitisasi. Politik yang disepakbolakan.
Lihat timpangnya. Mahkamah Internasional memiliki perkara genosida yang berjalan tanpa tanggal selesai dan tanpa juri. Dewan Keamanan PBB punya hak veto, yang artinya satu negara bisa membatalkan suara seluruh dunia. Embargo senjata punya celah. Laporan komisi penyelidikan memiliki rekomendasi yang tidak mengikat bagi siapa pun. Semua lembaga yang dirancang untuk menjatuhkan vonis ternyata juga dirancang untuk menunda vonis.
Sepak bola tidak menunda. Sepak bola punya peluit akhir, papan skor, dan pemenang yang tidak bisa dibantah siapa pun. Ia menawarkan persis apa yang tidak sanggup diberikan tatanan dunia: penyelesaian.
Ini yang dijelaskan James Carey puluhan tahun lalu. Komunikasi bukan cuma soal mengirim informasi. Ia ritual, pengulangan yang menegaskan siapa “kita”. Tidak akan ada satu orang pun yang tahu sesuatu yang baru tentang Gaza dari hasil final ini. Yang terjadi adalah ratusan juta orang melatih ulang identitas moral mereka lewat sebuah pertandingan.
Final ini bukan sumber informasi. Ia altar. Dan altar bekerja paling baik kalau ia sederhana.
Empat lompatan yang membuatnya terasa masuk akal
Bingkai “pro-Israel lawan anti-genosida” hanya bisa berdiri di atas empat lompatan logika. Keempatnya dilakukan berturut-turut, begitu cepat sampai tidak sempat diperiksa.
Lompatan pertama: presiden sama dengan bangsa. Milei memang pro-Israel. Tapi survei Pew Juni 2026 menunjukkan publik Argentina justru sangat kritis terhadap Israel. Pemerintahnya satu arah, rakyatnya arah lain. Menyebut “Argentina tim Israel” berarti menghapus puluhan juta orang dalam satu tarikan napas. Dalam metodologi, ini punya nama: kekeliruan ekologis, menimpakan sifat kelompok kepada setiap orang di dalamnya.
Lompatan kedua: pemain sama dengan negara. Foto Messi memakai kippah di Tembok Ratapan diambil tahun 2013. Sebelas tahun sebelum peristiwa yang sekarang dipakai untuk mengadilinya. Foto itu beredar lagi tahun ini tanpa tahun, tanpa konteks, tanpa apa pun kecuali kekuatannya sebagai barang bukti. Mencabut sesuatu dari konteksnya bukan kecelakaan media sosial. Itu tata bahasa aslinya.
Lompatan ketiga: kebijakan sama dengan moralitas. Yang mengakui Palestina adalah Pedro Sánchez, bukan sebelas pemain Spanyol. Mereka tidak memilihnya, tidak memperdebatkannya, dan tidak menanggung akibatnya. Mereka cuma kebetulan memakai kaus yang sama warnanya dengan bendera negara itu.
Lompatan keempat, yang paling jarang disebut: ingatan sejarah harus dangkal agar bingkai ini tetap utuh. Spanyol didaulat sebagai penjaga moral melawan kolonialisme pemukim. Spanyol, yang pada tahun 1492 menulis naskah aslinya. Argentina didakwa sebagai kaki tangan negara pemukim. Argentina berdiri di atas Conquista del Desierto, kampanye militer yang melenyapkan bangsa-bangsa asli di Pampa. Dua negara saling menunjuk struktur yang sama-sama mereka duduki.
Amnesia di sini bukan cacat pada bingkai. Ia dinding penopangnya. Bingkai itu cuma berfungsi selama ingatan kita pendek. Panjangkan garis waktunya lima ratus tahun, dan tidak tersisa satu pun pihak yang bersih untuk disorak.
Wasit adalah hakim terakhir yang masih kelihatan
Peristiwa paling penting turnamen ini sebenarnya bukan final, tapi laga Mesir lawan Argentina di Atlanta, 7 Juli lalu.
Mesir unggul duluan. Gol kedua mereka dianulir. Permintaan tinjauan video ditolak. Mereka kalah 3-2. Pelatih Hossam Hassan, yang sebelumnya mengibarkan bendera Palestina di lapangan, menyebut laga itu tidak adil. Federasi Mesir mengajukan protes resmi. Seorang YouTuber Mesir memberi judul videonya: Mesir kalah dari Zionisme, wasit, FIFA, dan Argentina.
Pertanyaan menariknya bukan apakah tuduhan itu benar. Pertanyaannya: dari mana kecurigaan itu datang?
Jawabannya bukan dari lapangan. Ia diimpor. Ia datang dari bertahun-tahun menyaksikan lembaga yang mengaku netral bekerja secara timpang. Dari veto yang selalu jatuh ke satu arah. Dari Rusia yang dijatuhi sanksi FIFA dalam hitungan hari setelah menyerbu Ukraina, sementara Israel tidak. Dari Presiden FIFA Gianni Infantino yang melobikan Nobel Perdamaian untuk Donald Trump, lalu menciptakan penghargaan perdamaian FIFA, lalu menyerahkannya kepada orang yang sama. Dari kartu merah pemain Amerika Serikat yang dianulir setelah sebuah panggilan telepon, panggilan yang diakui sendiri oleh Trump.
Tidak satu pun dari itu membuktikan wasit di Atlanta curang. Tapi semuanya membuat kecurigaan itu terasa masuk akal. Dan dalam sosiologi komunikasi, apakah sebuah tuduhan terasa masuk akal jauh lebih menentukan nasibnya daripada apakah ia benar.
Ini intinya. Wasit adalah hakim terakhir yang masih bisa dilihat mata. Ia satu-satunya wakil dari gagasan “aturan berlaku sama untuk semua” yang masih bisa dipelototi di tayangan ulang dan diteriaki namanya. Waktu orang berhenti percaya Dewan Keamanan adalah hakim, seluruh beban tuntutan keadilan pindah ke pundak satu lelaki dengan peluit. Dan ia runtuh. Tentu saja ia runtuh. Tidak ada wasit yang sanggup memikul apa yang gagal dipikul PBB.
Kemarahan pada wasit adalah kemarahan pada tatanan dunia yang tidak punya alamat. Wasit menyediakan alamatnya.
Siapa yang diuntungkan
Bagian ini akan tidak enak dibaca oleh kedua kubu.
Bingkai ini menguntungkan Ben Gvir. Seorang menteri yang ditolak masuk ke sejumlah negara mendapat kesempatan untuk menempelkan dirinya pada Lionel Messi, satu-satunya figur yang hampir dicintai oleh semua orang di dunia. Gratis. Modalnya satu kalimat di media sosial. Setiap orang yang mengulang “Argentina tim Israel” sedang mengerjakan pekerjaan rumah.

Tapi bingkai ini juga menguntungkan pihak yang menentangnya, dengan cara yang lebih halus dan karena itu lebih perlu diwaspadai. Ia menawarkan solidaritas tanpa gesekan. Menyorak Spanyol tidak menuntut apa pun. Tidak ada risiko, tidak ada biaya, dan tidak ada kebiasaan yang perlu diubah. Sembilan puluh menit, lalu lega, lalu tidur.
Ingat Mohammed al-Wahidi. Ia adalah anggota senior Komite Bantuan Mesir yang memasang layar-layar di atas reruntuhan Gaza agar warga bisa berkumpul dan menonton Piala Dunia di tengah kehancuran. Ia sekarang sudah dikuburkan. Layar-layar itu tidak memindahkan satu batu bata pun.
Kalau Spanyol menang Minggu malam, tidak ada satu anak pun di Rafah yang akan lebih kenyang besok pagi. Kalau Argentina menang, tidak ada satu kejahatan pun yang sah. Papan skor itu bukan hakim. Ia umpan.
Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan
Pertanyaan yang beredar minggu ini adalah “Harus dukung siapa?” Itu pertanyaan yang salah, dan kesalahannya adalah membuka sesuatu.
Pertanyaan yang benar: kenapa kita sampai butuh sebuah final?
Kerinduan pada papan skor, pada peluit, pada vonis yang tidak bisa dibantah, pada satu momen ketika yang benar terbukti benar di depan mata semua orang, adalah kerinduan yang lahir dari kekosongan. Kita memindahkan tuntutan keadilan ke stadion karena pengadilan yang sebenarnya sudah kehilangan wibawa untuk menampungnya.
Final Argentina lawan Spanyol bukan referendum atas Palestina. Ia gejala dari dunia yang kehabisan pengadilan, lalu menyewa lapangan.
Minggu malam akan lahir seorang juara. Tidak akan lahir sebuah putusan.
Dan bahaya terbesarnya bukan kita salah dukung. Bahaya terbesarnya adalah kita mengira yang pertama itu yang kedua, lalu pulang dengan perasaan bahwa sesuatu sudah selesai.
Catatan
Esai ini bersandar pada laporan Al Jazeera (Mohamad Elmasry, 10 Juli 2026), Middle East Eye, The Forward, CounterPunch, Ynet, serta data survei Pew Research Center pada Juni 2026. Status hukum “genosida” masih menjadi perkara yang sedang berjalan di Mahkamah Internasional. Istilah itu dipakai di sini sebagaimana ia beredar dalam wacana publik yang justru menjadi objek analisis tulisan ini.