Mengapa Ibu dan anak perempuan Arab sering berbeda pendapat mengenai perempuan yang ideal?
“Kamu harus belajar masak yang benar, nanti suamimu tidak suka bagaimana?” kata sang Ibu sambil mengaduk gulai di dapur. Anak perempuan yang baru lulus kuliah hanya menggeleng sambil fokus pada laptop menyelesaikan pendaftaran beasiswa master di luar negeri. “Mama tidak mengerti zaman sekarang perempuan bisa hidup mandiri tanpa harus bergantung pada suami”, jawabnya tanpa mengangkat mata dari layar laptop.
Percakapan seperti ini terjadi hampir setiap hari diribuan rumah tangga Arab, dari Maroko hingga Lebanon. Di runag tamu yang sama, dua generasi perempuan hidup dengan visi yang sangat berbeda tentang apa artinya menjadi “perempuan yang ideal”.
Benturan Dua Dunia di Satu Rumah
Konflik ini bukan sekedar perbedaan pendapat biasa. Ini adalah benturan dua dunia yang berbeda, di satu sisi ada ibu yang dibesarkan dengan nilai-nilai tradisional yang menurutnya perempuan ideal adalah patuh, pandai mengurus rumah, dan mengutamakan keluarga di atas segalanya. Di sisi lain, ada anak perempuan yang tumbuh di era digital yang melihat perempuan-perempuan sukses di seluruh dunia dan percaya bahwa masa depan mereka tidak harus dibatasi oleh dapur dan kamar tidur.
Apa yang tampak sebagai ketegangan domestik ini, sesungguhnya mencerminkan apa yang disebut oleh Abdessamad Dialmy sebagai konflik struktural antara Feminisme dan Islamisme di dunia Arab. Menurutnya pertentangan ini bukan sekedar soal Barat vs Timur, atau perempuan vs laki-laki, tapi tentang perebutan makna ruang kekuasaan dan posisi perempuan dalam masyarakat. Di tingkat rumah tangga, benturan ini hadir dalam bentuk ketegangan antara generasi ibu yang religius dan anak perempuan yang liberal, sebagaimana tergambar dalam banyak keluarga Arab Kontemporer.
Di Yordania, banyak anak perempuan yang belajar ke luar negeri dengan dukungan penuh dari orang tuanya, tapi tetap diharapkan untuk menikah diusia muda. Di Arab Saudi, setelah reformasi sosial dalam beberapa tahun terakhir, perempuan mulai memasuki ruang publik secara legal, tapi masih menghadapi tekanan domestik. Di Maroko, gerakan perempuan telah berkembang pesat, namun seringkali masih berbenturan dengan norma sosial yang kuat di rumah-rumah konservatif.
Mengapa Generasi Ibu lebih Religius?
Generasi ibu di dunia Arab tumbuh ketika hidup penuh ketidakpastian. Mereka menyaksikan kemerdekaan dari kolonialisme, perang dan perubahan sosial yang cepat. Di tengah kekacauan itu, agama menjadi satu-satunya pegangan yang stabil.
Bagi mereka menjadi perempuan muslimah yang baik bukan tentang pembatasan, tapi tentang kehormatan dan perlindungan. Hijab bukab sekedar penutup kepala, tapi simbol martabat. Peran sebagai ibu dan istri bukan sekedar tugas, tapi panggilan suci yang memberikan makna hidup.
mereka juga melihat bagaimana gerakan agama berhasil memberikan komunitas yang solid di masjid, di pengajian, di kelompok-kelompok keagamaan, mereka menemukan kekuatan kolektif yang mereka tidak dapatkan di tempat lain. Organisasi keagamaan memberikan mereka peran penting dalam masyarakat, bahkan jika peran itu “hanya” sebagai ibu dan istri.
Anak-anak Generasi Digital
Sementara itu, anak-anak mereka tumbuh di dunia yang benar-benar berbeda. Mereka menggunakan media sosial dan melihat perempuan Arab lainnya jadi CEO, astronot, atau aktivis terkenal. mereka mengenyam pendidikan dengan laki-laki dan membuktikan kepintaran yang sama. mereka punya akses informasi yang tidak pernah dimiliki ibu mereka.
Bagi generasi ini kesetaraan bukan lagi mimpi, tapi kenyataan yang bisa diraih. Mereka melihat pernikahan sebagai pilihan, bukan kewajiban. Mereka ingin karir yang bermakna, bukan sekedar pekerjaan sementara sebelum menikah.
Bagian yang menarik di sini adalah banyak dari mereka tetap religius dengan cara mereka mereka sendiri. Mereka berdoa, puasa, dan mengaji, tapi juga mempertanyakan tafsir tradisional yang menurut mereka tidak adil terhadap perempuan.
Pertarungan Diam-diam
Konflik ini jarang terbuka, kebanyakan anak perempuan Arab tidak akan langsung melawan ibu mereka. Mereka lebih memilih strategi “complience without commitment” pura-pura patuh di depan keluarga tapi menjalani hidup sesuai keinginan mereka di luar rumah.
Dialmy menyebut bahwa karena Islamisme lebih terlembaga dalam struktur sosial, feminisme seringkali bergerak lewat jalur individu dan organisasi nonformal. Hal ini membuat banyak perempuan muda Arab hidup dalam dunia ganda; satu untuk menyenangkan keluarga, satu lagi untuk meraih kebebasan.
Mereka akan mengikuti pelajaran memasak dari ibu, tapi juga diam-diam mengikuti kursus coding. Mereka akan ikut ketika diajak pengajian, tapi juga aktif dalam organisasi mahasiswa yang memperjuangkan kesetaraan gender. Strategi ini menciptakan kehidupan ganda yang melelahkan. Mereka terus menerus harus berpura-pura menjadi orang lain, tergantung konteks sosial mana mereka berada.
Generasi Sandwich
Istilah generasi sandwich seringkali dipahami sebagai generasi yang terapit secara ekonomi atau mereka yang harus menanggung beban finansial untuk merawat orang tua sekaligus membesarkan anak-anak yang masih bergantung. Namun dalam konteks ini, istilah tersebut dimaknai lebih luas, yaitu sebagai posisi sosial dan emosional yang terapit antara dua sistem nilai yang berbeda. Hal yang menarik adalah munculnya generasi sandwich dalam kondisi perempuan Arab, yakni perempuan berusia 35-45 tahun . mereka mengalami transisi antara dua dunia; dibesarkan dengan nilai tradisional, tapi juga mengalami modernitas. Sekarang mereka jadi Ibu dari anak-anak yang lebih liberal dan merawat orang tuanya yang konservatif.
Generasi ini sering menjadi penengah. Mereka memahami kedua perspektif dan berusaha mencari solusi yang bisa diterima oleh semua pihak. Mereka menerjemahkan aspirasi anak-anak kepada nenek dan menjelaskan budaya nenek kepada anak-anak.
Konflik antara ibu dan anak perempuan Arab ini sebenarnya bukan tentang siapa yang benar atau salah. Ini tentang dua generasi yang sama-sama berusaha melakukan yang terbaik dengan pemahaman dan konteks yang mereka punya. Mereka tidak membutuhkan pemenang, tapi pengertian. Para ibu perlu paham bahwa dunia sudah berubah dan anak perempuan mereka menghadapi tantangan yang berbeda. Para anak perempuan perlu paham bahwa kekhawatiran ibu berasal dari kasih sayang, meski cara mengekspresikannya terasa membatasi.
Sekilas Indonesia: Cermin yang Tidak Jauh
Fenomena benturan nilai antar generasi perempuan, sebenarnya tidak hanya terjadi di dunia Arab. Di Indonesia, cerita serupa juga berulang dalam banyak rumah tangga. Perempuan muda yang menempuh pendidikan tinggi, memiliki karir, dan katif menyuarakan kesetaraan gender, seringkali masih mendapat tekanan dari keluarga untuk “segera menikah” atau “jangan lupa kodrat sebagai perempuan”.
Di dapur-dapur rumah Indonesia, pertanyaan seperti “kapan punya anak?” atau “nanti siapa yang urus suami kalau kamu sibuk kerja?” menjadi versi lokal dari ketegangan antara feminisme dan nilai-nilai domestik keagamaan. Sebagaimana di Arab, nilai religius dan adat di Indonesia juga seringkali membingkai peran perempuan dalam kerangka moralitas, kehormatan, dan ketaatan.
Konflik ini mungkin tidak terlalu meledak, tapi hadir dalam bentuk halus seperti sindiran, dalam doa panjang ketika kumpul keluarga, atau dalam larang-larangan tidak tertulis.
Penutup: Menuju Ruang Tamu yang Damai
Peran dingin di ruang tamu tidak harus berlangusng selamanya. Dengan kesabaran, empati, dan komunikasi jujur, ruang tamu itu bisa jadi tempat di mana dua generasi saling belajar dan tumbuh bersama. Seperti pada temuan Dialmy bahwa rekonsilasi antara modernitas dan Islam bukan utopia, melainkan sebuah proyek sosial yang sedang berlangsung dan sering kali bermula dari ruang tamu kecil di mana ibu dan anak belajar untuk saling memahami tanpa harus kehilangan diri mereka sendiri.
Mungkin suatu hari nanti, percakapan di dapur akan berbunyi seperti ini “Mama, ajarin cara bikin hummus yang enak, nanti kalau sudah jadi diplomat, aku bisa masak makanan Arab untuk teman-teman internasional”. Pada akhirnya, menjadi perempuan yang ideal bukan tentang memilih antara tradisi dan modernitas. Ini tentang menemukan cara untuk menghormati keduanya.
