Mengapa Piala Dunia 1970 disebut sebagai tirai bagi kediktatoran Brasil? Ketika dunia terpukau oleh aksi Pele dan Brasil berhasil merebut gelar juara dunia ketiganya, aparat militer pada saat yang sama terus memburu orang-orang yang dicurigai sebagai komunis. Sepak bola menjadi tontonan yang menghibur rakyat, sementara di sudut-sudut sel yang tersembunyi, banyak nyawa dihabisi tanpa pernah diadili. Salah satu wajah dari kegelapan itu adalah Raul dos Santos Figueira, tokoh fiktif yang dihidupkan Henrique Schneider dalam novelnya 1970.

Raul dos Santos Figueira digambarkan sebagai pegawai bank berusia 25 tahun yang tinggal bersama ibunya di pusat kota Porto Alegre. Hidupnya sehari-hari sederhana, dari rumah ke kantor, lalu pulang lagi. Ia bukan pemimpin revolusi, bukan tokoh politik, bahkan tidak benar-benar memahami pertarungan ideologi yang tengah berkecamuk di negaranya. Namun hidupnya berubah total ketika aparat negara mencapnya sebagai ancaman bagi stabilitas nasional. Raul diculik oleh aparat saat hendak menonton bioskop, lalu selama sembilan hari mengalami penyiksaan karena dituduh terlibat kelompok bersenjata sayap kiri Vanguarda Popular Revolucionaria (VPR), yang saat itu memang berupaya menculik seorang konsul Amerika Serikat.

Novel ini terdiri dari 133 halaman dan 22 bab yang disusun dengan alur maju-mundur, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Gladhys Elliona dan diterbitkan Marjin Kiri pada Agustus 2023. Selain kisah Raul, kita juga diajak menyelami sudut pandang tokoh-tokoh lain, terutama Irene, ibu Raul, yang penderitaannya menjadi cermin dari duka yang jauh lebih luas, duka setiap keluarga yang kehilangan anak tanpa pernah tahu alasan yang jelas.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah Candido, terbitan Perpustakaan Publik Parana, Schneider menjelaskan proses kreatifnya. Novel ini mulai ia tulis pada 6 Desember 2014, dan naskah pertamanya rampung pada September 2015, sebelum akhirnya melalui dua kali revisi hingga selesai pada April 2016. Schneider menegaskan bahwa tokoh Raul tidak terinspirasi dari satu kisah hidup tertentu. Raul, katanya, sengaja dibuat sebagai sosok yang sangat biasa dan anonim, seseorang yang secara tidak sengaja terseret ke dalam kekelaman sebuah zaman yang tidak boleh terulang.

Meski Raul adalah tokoh fiksi, Schneider menegaskan bahwa hampir semua peristiwa dalam novelnya benar-benar terjadi, percobaan penculikan konsul Amerika Serikat di Porto Alegre, meningkatnya represi setelah peristiwa itu, penangkapan salah sasaran, penyiksaan terhadap orang-orang yang sama sekali tidak terlibat politik, tempat-tempat penyiksaan rahasia, bahkan pelatihan menyiksa yang memakai manusia hidup sebagai bahan latihan. Dengan kata lain, semua yang ditulis dalam novel itu pernah terjadi, Schneider hanya merangkainya menjadi satu kisah yang utuh.

Kisah Raul dos Santos Figueira memang fiksi, tetapi ia berakar pada kenyataan yang jauh lebih kelam, salah satunya adalah kasus Raul Amaro Nin Ferreira, seorang insinyur yang menjadi korban nyata kediktatoran militer Brasil.

Berdasarkan laporan investigasi jurnalis Conceiçao Lemes untuk Viomundo yang dipublikasikan ulang oleh Sindikat Insinyur Rio de Janeiro (SengeRJ), Raul Amaro ditangkap secara tidak sengaja dalam razia polisi di kawasan Laranjeiras, Rio de Janeiro, pada dini hari 1 Agustus 1971. Dalam mobilnya ditemukan sketsa jalan yang sebenarnya hanya petunjuk arah menuju rumah kerabatnya, namun oleh Pusat Informasi Angkatan Darat (CIE) sketsa itu ditafsirkan sebagai peta rumah para jenderal yang hendak dijadikan sasaran serangan gerilya.

Selama bertahun-tahun, versi resmi pemerintah menyebut Raul Amaro meninggal karena sebab alami saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Namun gugatan hukum yang diajukan ibunya, Mariana, sejak 1979, kesaksian mantan prajurit yang menyaksikan langsung penyiksaan tersebut, serta laporan awal Komisi Kebenaran Nasional Brasil yang dirilis pada 2012, semuanya mengarah pada kesimpulan yang berbeda, Raul Amaro tewas pada pertengahan Agustus 1971 setelah mengalami serangkaian penyiksaan. Pengadilan federal bahkan telah memenangkan gugatan keluarganya pada 1982, dan putusan final pada 1994 menegaskan bahwa negara telah menyiksa dan membunuhnya.

Yang tidak kalah mengejutkan, surat kabar besar seperti O Globo pada masanya justru menyebarkan versi resmi rezim Brasil, bahkan mengarang nama samaran “Eulalio” untuk Raul Amaro dan menggambarkannya sebagai seorang teroris subversif. Baru puluhan tahun kemudian, setelah keluarga dan peneliti membuka kembali arsip-arsip negara, kebohongan itu terbongkar. Kasus ini menjadi bukti nyata bagaimana kekerasan yang digambarkan dalam novel 1970 bukan sekadar imajinasi, melainkan cermin dari nasib banyak orang biasa yang direnggut kehidupannya oleh mesin represi negara.

Metode Jakarta: Ketika Sebuah Kota Menjadi Kode Sandi Teror

Pemahaman saya membaca novel 1970 berubah, setelah saya membaca Metode Jakarta, karya jurnalis Amerika Serikat, Vincent Bevins. Jika Schneider membawa saya masuk ke ruang interogasi seorang korban, Bevins mengajak saya melihat ruang komando tempat strategi kekerasan itu disusun.

Buku ini terbit pertama kali pada 2020 dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Pradewi Tri Chatami, diterbitkan Marjin Kiri. Melalui riset yang memanfaatkan dokumen-dokumen yang telah dideklasifikasi serta wawancara dengan penyintas dan saksi mata di berbagai negara, Bevins menunjukkan bahwa pembantaian antikomunis 1965–1966 di Indonesia, yang menewaskan sekitar satu juta warga sipil tak bersenjata, bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia menyebutnya sebagai salah satu titik balik terpenting Perang Dingin, musnahnya partai komunis terbesar di dunia di luar Uni Soviet dan Tiongkok, dengan keterlibatan rahasia badan intelijen Amerika Serikat, CIA.

Yang paling mencekam dari temuan Bevins adalah bagaimana nama “Jakarta” kemudian berubah menjadi kode sandi teror di berbagai negara. Metode yang sama, mencap lawan politik sebagai komunis lalu menumpasnya secara sistematis, kemudian direplikasi di berbagai belahan dunia, dengan sebutan berbeda-beda seperti “Operaçao Jakarta” di Brasil atau “Plan Yakarta” di Chile. Menjelang kudeta terhadap Presiden Salvador Allende di Chile pada 1973, coretan bertuliskan “Jakarta is coming” muncul di berbagai sudut Santiago sebagai ancaman bagi para pendukung gerakan kiri. Pesannya jelas, apa yang terjadi di Indonesia bisa juga terjadi di Chile.

Bevins juga menegaskan bahwa kudeta militer Brasil pada 1964 adalah mata rantai penting dalam jaringan strategi antikomunis global tersebut. Baginya, Brasil dan Indonesia merupakan dua “kemenangan” strategis yang sangat menentukan bagi blok yang dipimpin Amerika Serikat dalam membentuk tatanan politik dan ekonomi dunia setelah Perang Dingin, sebuah tatanan yang menurut Bevins masih membentuk ketimpangan global hingga hari ini.

Di sinilah novel 1970 dan buku Metode Jakarta saling melengkapi. Metode Jakarta menjelaskan bagaimana sebuah sistem kekerasan bekerja secara global. Novel 1970 menunjukkan bagaimana rasanya hidup di bawah sistem itu, dari sudut pandang manusia biasa yang tiba-tiba kehilangan segalanya.

Bevins berbicara tentang dokumen rahasia, operasi intelijen, jaringan militer, dan kebijakan luar negeri. Schneider berbicara tentang kehilangan, ketakutan seorang ibu, dan seorang pemuda yang mendadak kehilangan masa depannya. Satu buku menjelaskan mesin sejarah, yang lain memperlihatkan manusia yang terlindas oleh mesin itu.

Membaca kedua buku ini, membuat saya memahami bahwa kekerasan negara tidak pernah berhenti di batas-batas sebuah negara. Ia melintasi samudra, berpindah dari satu rezim ke rezim lain, mewariskan pola yang sama, mengkambinghitamkan, menculik, menyiksa, lalu menutupinya dengan narasi resmi yang keliru, sebagaimana yang terjadi pada Raul Amaro maupun pada tokoh fiktif Raul dos Santos Figueira.

Jakarta, Sebuah Nama yang Menjadi Kata Sandi Ketakutan

Bagi saya, pengalaman membaca kedua buku ini terasa jauh lebih personal. Nama Jakarta dalam judul buku Bevins bukan sekadar penunjuk lokasi geografis. Ia adalah jejak dari sebuah peristiwa yang pernah terjadi di negeri ini, sebelum kemudian berubah menjadi kata sandi ketakutan di berbagai belahan dunia.

Ironisnya, ketika nama Jakarta dikenang di luar negeri sebagai simbol pembantaian antikomunis, di Indonesia sendiri sejarah 1965 masih sering menjadi ruang yang sunyi dan penuh perdebatan. Generasi baru tumbuh tanpa sepenuhnya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada masa itu.

Novel 1970 menjadi pengingat bahwa di balik setiap angka korban, setiap dokumen rahasia, dan setiap istilah seperti Metode Jakarta, selalu ada manusia seperti Raul, baik yang fiktif maupun yang nyata. Selalu ada keluarga yang kehilangan anak, kekasih yang kehilangan pasangan, dan generasi yang tumbuh tanpa sepenuhnya mengetahui apa yang pernah terjadi kepada orang-orang terdekat mereka.

Mungkin itulah sebabnya kedua buku terbitan Marjin Kiri ini penting dibaca oleh generasi sekarang. Metode Jakarta menjelaskan mengapa kekerasan itu terjadi. Novel 1970 membantu kita memahami bagaimana rasanya menjadi orang yang mengalami kekerasan itu.

Pada akhirnya, sejarah tidak hanya diingat melalui arsip negara atau jumlah korban. Ia juga hidup melalui sastra yang berani mengembalikan nama, wajah, dan kemanusiaan kepada mereka yang pernah berusaha dihapus dari ingatan kolektif.

Daftar Pustaka:
Bevins, V. (2022). Metode Jakarta: Amerika Serikat, pembantaian 1965, dan dunia global kita sekarang (P. T. Chatami, Trans.). Marjin Kiri.

Schneider, H. (2023). 1970 (G. Elliona, Trans.). Marjin Kiri.

Sindicato dos Engenheiros no Estado do Rio de Janeiro. (n.d.). Assassinato do engenheiro Raul Amaro na ditadura. https://sengerj.org.br/assassinato-do-engenheiro-raul-amaro-na-ditadura/

Bagikan artikel ini