Kenapa final Piala Dunia Minggu ini dibaca sebagai urusan Gaza, dan kenapa pembacaan itu menyesatkan

Untuk Anda yang tidak menonton bola

Anda tidak perlu suka sepak bola untuk membaca tulisan ini. Yang perlu Anda tahu cuma empat hal.

Pertama, Minggu malam ini di New York, Argentina melawan Spanyol di final Piala Dunia. Ini pertandingan paling banyak ditonton di planet ini, sekitar satu miliar pasang mata dalam sembilan puluh menit.

Kedua, kapten Argentina adalah Lionel Messi, mungkin manusia paling dicintai di dunia olahraga. Bintang muda Spanyol adalah Lamine Yamal, umur sembilan belas tahun, yang bulan Mei lalu mengibarkan bendera Palestina di parade juara klubnya.

Ketiga, Presiden Argentina Javier Milei menyebut dirinya presiden paling Zionis di dunia. Pemerintah Spanyol melakukan kebalikannya: mengakui negara Palestina lebih awal dari kebanyakan negara Eropa, lalu mengambil langkah embargo dan sanksi terhadap Israel.

Keempat, dan ini yang membuat semuanya meledak: beberapa jam sebelum semifinal melawan Inggris, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir menulis di media sosial bahwa ia tidak perlu menjelaskan kenapa ia berdoa sepenuh hati agar Argentina menang. Setelah Argentina benar-benar menang, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich ikut merayakan dan menyapa Milei sebagai “seorang kawan”. Duta Besar Israel di PBB cukup menulis dua kata: Vamos Argentina.

Jadi begitulah. Sebuah pertandingan bola sudah dibaca sebelum dimainkan: pro-Israel lawan anti-genosida. Referendum moral dalam sembilan puluh menit.

Tulisan ini ingin membantah pembacaan itu. Bukan karena pembacaan itu salah secara moral. Justru karena ia terlalu memuaskan, dan hal-hal yang terlalu memuaskan biasanya sedang menyembunyikan sesuatu.

Bukan bola yang dipolitisasi

Kalimat yang paling sering diulang minggu ini adalah “sepak bola tidak bisa dipisahkan dari politik”. Kalimat itu benar, dan sudah tumpul. Ia klise yang tidak lagi menjelaskan apa pun.

Yang sebenarnya terjadi justru kebalikannya. Bukan sepak bola yang dipolitisasi. Politik yang disepakbolakan.

Lihat timpangnya. Mahkamah Internasional memiliki perkara genosida yang berjalan tanpa tanggal selesai dan tanpa juri. Dewan Keamanan PBB punya hak veto, yang artinya satu negara bisa membatalkan suara seluruh dunia. Embargo senjata punya celah. Laporan komisi penyelidikan memiliki rekomendasi yang tidak mengikat bagi siapa pun. Semua lembaga yang dirancang untuk menjatuhkan vonis ternyata juga dirancang untuk menunda vonis.

Sepak bola tidak menunda. Sepak bola punya peluit akhir, papan skor, dan pemenang yang tidak bisa dibantah siapa pun. Ia menawarkan persis apa yang tidak sanggup diberikan tatanan dunia: penyelesaian.

Ini yang dijelaskan James Carey puluhan tahun lalu. Komunikasi bukan cuma soal mengirim informasi. Ia ritual, pengulangan yang menegaskan siapa “kita”. Tidak akan ada satu orang pun yang tahu sesuatu yang baru tentang Gaza dari hasil final ini. Yang terjadi adalah ratusan juta orang melatih ulang identitas moral mereka lewat sebuah pertandingan.

Final ini bukan sumber informasi. Ia altar. Dan altar bekerja paling baik kalau ia sederhana.

Empat lompatan yang membuatnya terasa masuk akal

Bingkai “pro-Israel lawan anti-genosida” hanya bisa berdiri di atas empat lompatan logika. Keempatnya dilakukan berturut-turut, begitu cepat sampai tidak sempat diperiksa.

Lompatan pertama: presiden sama dengan bangsa. Milei memang pro-Israel. Tapi survei Pew Juni 2026 menunjukkan publik Argentina justru sangat kritis terhadap Israel. Pemerintahnya satu arah, rakyatnya arah lain. Menyebut “Argentina tim Israel” berarti menghapus puluhan juta orang dalam satu tarikan napas. Dalam metodologi, ini punya nama: kekeliruan ekologis, menimpakan sifat kelompok kepada setiap orang di dalamnya.

Lompatan kedua: pemain sama dengan negara. Foto Messi memakai kippah di Tembok Ratapan diambil tahun 2013. Sebelas tahun sebelum peristiwa yang sekarang dipakai untuk mengadilinya. Foto itu beredar lagi tahun ini tanpa tahun, tanpa konteks, tanpa apa pun kecuali kekuatannya sebagai barang bukti. Mencabut sesuatu dari konteksnya bukan kecelakaan media sosial. Itu tata bahasa aslinya.

Lompatan ketiga: kebijakan sama dengan moralitas. Yang mengakui Palestina adalah Pedro Sánchez, bukan sebelas pemain Spanyol. Mereka tidak memilihnya, tidak memperdebatkannya, dan tidak menanggung akibatnya. Mereka cuma kebetulan memakai kaus yang sama warnanya dengan bendera negara itu.

Lompatan keempat, yang paling jarang disebut: ingatan sejarah harus dangkal agar bingkai ini tetap utuh. Spanyol didaulat sebagai penjaga moral melawan kolonialisme pemukim. Spanyol, yang pada tahun 1492 menulis naskah aslinya. Argentina didakwa sebagai kaki tangan negara pemukim. Argentina berdiri di atas Conquista del Desierto, kampanye militer yang melenyapkan bangsa-bangsa asli di Pampa. Dua negara saling menunjuk struktur yang sama-sama mereka duduki.

Amnesia di sini bukan cacat pada bingkai. Ia dinding penopangnya. Bingkai itu cuma berfungsi selama ingatan kita pendek. Panjangkan garis waktunya lima ratus tahun, dan tidak tersisa satu pun pihak yang bersih untuk disorak.

Wasit adalah hakim terakhir yang masih kelihatan

Peristiwa paling penting turnamen ini sebenarnya bukan final, tapi laga Mesir lawan Argentina di Atlanta, 7 Juli lalu.

Mesir unggul duluan. Gol kedua mereka dianulir. Permintaan tinjauan video ditolak. Mereka kalah 3-2. Pelatih Hossam Hassan, yang sebelumnya mengibarkan bendera Palestina di lapangan, menyebut laga itu tidak adil. Federasi Mesir mengajukan protes resmi. Seorang YouTuber Mesir memberi judul videonya: Mesir kalah dari Zionisme, wasit, FIFA, dan Argentina.

Pertanyaan menariknya bukan apakah tuduhan itu benar. Pertanyaannya: dari mana kecurigaan itu datang?

Jawabannya bukan dari lapangan. Ia diimpor. Ia datang dari bertahun-tahun menyaksikan lembaga yang mengaku netral bekerja secara timpang. Dari veto yang selalu jatuh ke satu arah. Dari Rusia yang dijatuhi sanksi FIFA dalam hitungan hari setelah menyerbu Ukraina, sementara Israel tidak. Dari Presiden FIFA Gianni Infantino yang melobikan Nobel Perdamaian untuk Donald Trump, lalu menciptakan penghargaan perdamaian FIFA, lalu menyerahkannya kepada orang yang sama. Dari kartu merah pemain Amerika Serikat yang dianulir setelah sebuah panggilan telepon, panggilan yang diakui sendiri oleh Trump.

Tidak satu pun dari itu membuktikan wasit di Atlanta curang. Tapi semuanya membuat kecurigaan itu terasa masuk akal. Dan dalam sosiologi komunikasi, apakah sebuah tuduhan terasa masuk akal jauh lebih menentukan nasibnya daripada apakah ia benar.

Ini intinya. Wasit adalah hakim terakhir yang masih bisa dilihat mata. Ia satu-satunya wakil dari gagasan “aturan berlaku sama untuk semua” yang masih bisa dipelototi di tayangan ulang dan diteriaki namanya. Waktu orang berhenti percaya Dewan Keamanan adalah hakim, seluruh beban tuntutan keadilan pindah ke pundak satu lelaki dengan peluit. Dan ia runtuh. Tentu saja ia runtuh. Tidak ada wasit yang sanggup memikul apa yang gagal dipikul PBB.

Kemarahan pada wasit adalah kemarahan pada tatanan dunia yang tidak punya alamat. Wasit menyediakan alamatnya.

Siapa yang diuntungkan

Bagian ini akan tidak enak dibaca oleh kedua kubu.

Bingkai ini menguntungkan Ben Gvir. Seorang menteri yang ditolak masuk ke sejumlah negara mendapat kesempatan untuk menempelkan dirinya pada Lionel Messi, satu-satunya figur yang hampir dicintai oleh semua orang di dunia. Gratis. Modalnya satu kalimat di media sosial. Setiap orang yang mengulang “Argentina tim Israel” sedang mengerjakan pekerjaan rumah.

Tapi bingkai ini juga menguntungkan pihak yang menentangnya, dengan cara yang lebih halus dan karena itu lebih perlu diwaspadai. Ia menawarkan solidaritas tanpa gesekan. Menyorak Spanyol tidak menuntut apa pun. Tidak ada risiko, tidak ada biaya, dan tidak ada kebiasaan yang perlu diubah. Sembilan puluh menit, lalu lega, lalu tidur.

Ingat Mohammed al-Wahidi. Ia adalah anggota senior Komite Bantuan Mesir yang memasang layar-layar di atas reruntuhan Gaza agar warga bisa berkumpul dan menonton Piala Dunia di tengah kehancuran. Ia sekarang sudah dikuburkan. Layar-layar itu tidak memindahkan satu batu bata pun.

Kalau Spanyol menang Minggu malam, tidak ada satu anak pun di Rafah yang akan lebih kenyang besok pagi. Kalau Argentina menang, tidak ada satu kejahatan pun yang sah. Papan skor itu bukan hakim. Ia umpan.

Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan

Pertanyaan yang beredar minggu ini adalah “Harus dukung siapa?” Itu pertanyaan yang salah, dan kesalahannya adalah membuka sesuatu.

Pertanyaan yang benar: kenapa kita sampai butuh sebuah final?

Kerinduan pada papan skor, pada peluit, pada vonis yang tidak bisa dibantah, pada satu momen ketika yang benar terbukti benar di depan mata semua orang, adalah kerinduan yang lahir dari kekosongan. Kita memindahkan tuntutan keadilan ke stadion karena pengadilan yang sebenarnya sudah kehilangan wibawa untuk menampungnya.

Final Argentina lawan Spanyol bukan referendum atas Palestina. Ia gejala dari dunia yang kehabisan pengadilan, lalu menyewa lapangan.

Minggu malam akan lahir seorang juara. Tidak akan lahir sebuah putusan.

Dan bahaya terbesarnya bukan kita salah dukung. Bahaya terbesarnya adalah kita mengira yang pertama itu yang kedua, lalu pulang dengan perasaan bahwa sesuatu sudah selesai.

Catatan

Esai ini bersandar pada laporan Al Jazeera (Mohamad Elmasry, 10 Juli 2026), Middle East Eye, The Forward, CounterPunch, Ynet, serta data survei Pew Research Center pada Juni 2026. Status hukum “genosida” masih menjadi perkara yang sedang berjalan di Mahkamah Internasional. Istilah itu dipakai di sini sebagaimana ia beredar dalam wacana publik yang justru menjadi objek analisis tulisan ini.

Bagikan artikel ini